Kamis, 08 September 2016

Titah Purabaya

TITAH PURABAYA
NASKAH : ONY S

KEGAGALAN MATARAM UNTUK MENAKLUKKAN PURABAYA PADA TAHUN 1586 – 1587. AKHIRNYA MEMAKSA MATARAM PADA TAHUN 1590 KEMBALI MEMASUKI PURABAYA DENGAN PURA-PURA MENYATAKAN TAKLUK.
KETIKA PURABAYA DALAM KEADAAN LENGAH, SAAT ITULAH PASUKAN MATARAM MENGEPUNG DAN MENYERBU PURABAYA. PARA SRIKANDI PURABAYA YANG DIPIMPIN RADEN AYU RETNO DUMILAH MENGOBARKAN PERLAWANAN TERAKHIRNYA.
DI JANTUNG KUTHA PRAJA PURABAYA, PERANG TANDING ANTARA PANEMBAHAN SENOPATI DAN RETNO DUMILAH MENJADI MULA DAN SEKALIGUS AKHIR DARI SEBUAH CATATAN SEJARAH.


Adegan 1
DISERTAI KERETA  DENGAN PENGAWALAN KHUSUS, NYAI ADISARA MENGHADAP PANEMBAHAN RONGGO JUMENA UNTUK MEMBASUH KAKI PENGUASA KADIPATEN PURABAYA UNTUK KEMUDIAN SISA AIR ITU AKAN DIPAKAI UNTUK KERAMAS PANEMBAHAN SENOPATI DI MATARAM.
PASEBAN PURABAYA.
01.
NYAI ADISARA
:
(MENGHATURKAN SEMBAH) Sembah hormat putrinda menantu, Panembahan Rama.
02.
RONGGO JUMENA
:
Aku terima sembahmu, Nyai Adisara.
03.
NYAI ADISARA
:
Dan ijinkan pula, putrinda menantu menyampaikan salam hormat dan bakti putranda Senapati di Mataram kepada Pamanda Panembahan….
04.
RONGGO JUMENA
:
Rupanya Danang Sutawijaya masih menganggapku sebagai Pamandanya?
05.
NYAI ADISARA
:
Betapa durhakanya kami, jika mengingkari tali keluarga ini. Dan sebagai putra angkat Rama Sultan Hadiwijaya, putranda Senopati sekali lagi menghaturkan sembah sungkem kepada Pamanda.
06.
RONGGO JUMENA
:
Aku terima sembah nakmas Senopati.
(DIAM SEJENAK) Lantas, ada kabar apa gerangan dari Mataram, sampai-sampai mengutus seorang selir secantik Nyai sebagai duta?
07.
NYAI ADISARA
:
Sebagai wakil dari putranda Senopati mohon perkenan  agar Putrinda menantu untuk membasuh kaki Pamanda Panembahan dengan air bunga mawar.
08.
RONGGO JUMENA
:
Nyai Adisara, sungguh sedikitpun tidak terbersit dalam benakku jika kedatanganmu di Purabaya hanya untuk membasuh kakiku?
09.
NYAI ADISARA
:
Demikianlah adanya tugas hamba sebagai duta. Mohon kesediaan Pamanda Panembahan jika sisa air dalam bokor akan dibawa ke Mataram untuk mandi dan keramas putranda Senopati. Dengan demikian, ini merupakan tanda pengakuan kami atas kepemimpinan Pamanda Adipati, Kanjeng Pangeran Timur bagi Tlatah Brang Wetan.
10.
RONGGO JUMENA
:
Hmmm... bagaimana mungkin aku menolak permintaanmu itu?
11.
NYAI ADISARA
:
Izinkan Putrinda menantu untuk mengemban dan melaksanakan kewajiban sebagai duta sekaligus sebagai seorang menantu
12.
RONGGO JUMENA
:
(BERPIKIR SEJANAK. LANTAS HANYA MEMBERIKAN ISYARAT DENGAN TANGANNYA UNTUK MEMPERSILAKAN NYAI ADISARA MENCUCI KAKINYA)
13.
NYAI ADISARA
:
(MENCUCI KAKI SANG PANEMBAHAN. SETELAH UPACARA SELESAI NYAI ADISARA LALU MOHON PAMIT KEMBALI KE MATARAM, DAN MEMBAWA SISA – SISA AIR PA­DA BOKOR KENCANA, YAKNI YANG BERISI KEMBANG SETAMAN BEKAS UNTUK MEN­CUCI KAKI SANG PANEMBAHAN.)
Tugas ananda sebagai duta telah selesai. Perkenankan ananda segera undur diri dan segera pulang ke Mataram.
14.
RONGGO JUMENA
:
Kenapa musti tergesa-gesa? Perjalanan Purabaya ke Mataram cukup jauh, dan tentunya ananda Nyai Adisara perlu cukup beristirahat. Tinggallah barang semalam di Purabaya.
15.
NYAI ADISARA
:
Ananda harus segera menghaturkan air suci ini ke Mataram.
16.
RONGGO JUMENA
:
Baiklah kalau begitu. Restuku menyertaimu, Nyai Adisara.

NYAI ADISARA UNDUR DIRI KEMBALI KE MATARAM.

-- BLACK OUT --


Adegan 2
(ADEGAN MERUPAKAN ADEGAN-ADEGAN PENDEK VISUALISASI PERSIAPAN AKHIR STRATEGI PERANG MATARAM)
DI SEBERANG BENGAWAN
KI JURU MERTANI DAN PANGERAN SINGASARI TENGAH MEMPERSIAPKAN STATEGI PENYERANGAN. DATANG PRAJURIT TELIK SANDI MELAPOR.
01.
P. SINGASARI
:
Nyai Adisara baru saja tiba dengan keberhasilan gemilang. Lantas apa rencana selanjutnya?
02.
KI JURU MERTANI
:
Kita sesuai dengan rencana.
03.
P. SINGASARI
:
Aku sudah tidak sabar untuk menggempur benteng Purabaya.
04.
KI JURU MERTANI
:
Sabarkan dirimu, Nakmas Pangeran. Segala strategi harus kita jalankan dengan penuh perhitungan dan ketelitian. Sedikit saja kita teledor, rencana yang sudah kita susun dengan matang bisa saja hancur berantakan.
05.
TELIK SANDI
:
(MASUK TERGOPOH-GOPOH. SETELAH MENGHATURKAN SEMBAH) Punten Dalem sewu, gusti. Hamba membawa laporan penting.
06.
P. SINGASARI
:
(MENUKAS CEPAT) Cepat sampaikan!
07.
TELIK SANDI
:
Para adipati Brang Wetan beserta pasukannya telah menarik diri meninggalkan Purabaya. Menurut pengamatan hamba, praktis Purabaya dalam keadaan lemah saat ini.
08.
P. SINGASARI
:
(TERTAWA)

BEBERAPA PRAJURIT TELIK SANDI MATARAM BERHASIL MENYUSUP KE JANTUNG PERTAHAN PURABAYA. MEREKA DATANG BAGAI SILUMAN, DATANG DENGAN SEKEJAP DAN MENIKAM DARI BELAKANG PRAJURIT JAGA PURABAYA.

KEMBALI KE PANGERAN SINGASARI DAN KI JURU MERTANI.
DENGAN KEBANGGAAN PANGERAN SINGASARI MENERIMA LAPORAN DARI PRAJURIT TELIK SANDI YANG MELAPORKAN KEBERHASILAN PENYUSUPAN PASUKAN TELIK SANDI MATARAM.

PASUKAN MATARAM BERGERAK PERLAHAN MENUJU JANTUNG KOTA PRAJA PURABAYA.
MATARAM TELAH MENYUSUP KE JANTUNG KOTA PURABAYA.
09.
PRAJURIT 1
:
(BERTERIAK) Mataram menyerang… Mataram menyerang…. Mataram menyerang!!! (PESAN INI KEMUDIAN DISAMPAIKAN SECARA BERANTING)
10.
PRAJURIT 2
:
Peringatkan pada semua pos jaga untuk bersiaga! Aku akan segera melapor ke Kanjeng Adipati. (KELUAR)
PRAJURIT MATARAM MENERJANG BARISAN PERTAHANAN PURABAYA. PARA PRAJURIT PURABAYA KELABAKAN MENERIMA SERANGAN MENDADAK SEPERTI INI. PERANGPUN TAK DAPAT DIHINDARKAN.

-- BLACK OUT --



Adegan 3
TAMAN SARI PURABAYA.
RONGGO JUMENA MERASA DIPERDAYAI OLEH SIASAT LICIK MATARAM. PUTRINYA, RADEN RETNO DUMILAH DIHADAPANNYA.
01.
RONGGO JUMENA

:
(KEGELISAHAN NAMPAK JELAS DI KENING RONGGO JUMENA) Mulut Danang Sutawijaya benar-benar mawawisa. Betapa tidak? Rama begitu saja mudah diperdaya olehnya. Sungguh licik. Dengan bertameng selir cantiknya, ia mengelabui Rama.
02.
RETNO DUMILAH
:
Siasat ini hanya semata-mata agar kekuatan purabaya melemah dengan ditariknya pasukan Brang Wetan.
03.
RONGGO JUMENA

:
Ya... dan sekarang, kita sendiri. Di luar sana, Mataram telah mengasah pedang dan menegakkan tombaknya, siap menggempur kita.
04.
RETNO DUMILAH
:
Semua ini pasti atas siasat licik yang diatur oleh Paman Ki Juru Mertani.
05.
RONGGO JUMENA
:
Ya. Ki Juru Mertani memang pengatur siasat yang lihai. Maafkan, Rama yang telah menempatkanmu pada mata pedang peperangan ini.
06.
RETNO DUMILAH
:
Mohon Rama jangan menyalahkan diri sendiri. Mungkin inilah yang menjadi kehendak Gusti Allah.
07.
RONGGO JUMENA
:
Dan inilah yang membuat Rama semakin merasa bersalah. Untuk ketiga kalinya, Rama harus menempatkanmu dalam palagan.
08.
RETNO DUMILAH
:
Rama, Purabaya tidak pernah meminta perang. Tapi jika Mataram memaksa, Purabaya akan meladeninya.
09.
RONGGO JUMENA
:
Purabaya sangat bersyukur dipimpin oleh seorang senopati sekaligus adipati sepertimu.
10.
RETNO DUMILAH
:
Ananda hanya menjalani sebagai seorang Titah. Dan inilah titah dari Purabaya.
11.
RONGGO JUMENA
:
Putriku Retno Dumilah, aku percayakan Istana kepadamu. Terimalah Keris Pusaka Kyai Kala Gumarang ini. Aku berharap engkau bisa membunuh Sutawijaya dan musuh-musuh Kadipaten dengan pusaka ini.
12.
RETNO DUMILAH
:
Hanya restu Rama yang ananda harapkan.
13.
RONGGO JUMENA
:
(MEMBERIKAN RESTU DAN KEMUDIAN MOKSA. DI LUAR TERDENGAR TERIAKAN GEGAP GEMPITA PRAJURIT MATARAM)
14.
RETNO DUMILAH
:
(MENGHUNUS KERIS KYAI KALA GUMARANG) Pedang mereka boleh saja berkilat. Tombak mereka boleh saja gagah menantang langit. Di sini masih ada para srikandi Purabaya yang siap menyambut kedatangan lawan. Sadumuk Bathuk, Sanyari Bhumi. Tak sejengkal tanahpun yang akan kami serahkan tanpa melawan.

-- LAMPU BERUBAH --

Adegan 4
JANTUNG KUTHA PRAJA PURABAYA.
PUTRI-PUTRI KAPUTREN DENGAN GENDEWA TERPENTANG DAN PANAH TERHUNUS, MEMANDANG DENGAN TAJAM KEPADA ORANG-ORANG MATARAM. MEREKA TINGGAL MENUNGGU PERINTAH. ‎PEMIMPINNYA, GUSTI RADEN AJENG RETNO DUMILAH, MENGACUNGKAN KERIS KYAI KALA GUMARANG PADA PARA PENYERANG. KECANTIKANNYA MEMPESONA, BERBINAR TERTIMPA SINAR MATAHARI YANG MENYENGAT, DI PATIRTAN, SENDANG BERAIR JERNIH DI HALAMAN ‎KAPUTREN.
01.
RETNO DUMILAH

:
(MAJU MELANGKAH KERIS KYAI GUMARANG DI GENGGAMAN, KEPALA TENGADAH, MENUDING DENGAN KERISNYA) Yang mana diantara kalian yang menyebut diri Panembahan Senapati, Penguasa Mataram?
02.
P. SENOPATI
:
(PANEMBAHAN SENAPATI, ‎MAJU KE DEPAN. TOMBAK KYAI PLERED TERGENGGAM)
 Akulah Panembahan Senapati, Penguasa Mataram….
03.
RETNO DUMILAH
:
Keluar dari Istanaku, Panembahan.. Kau memasukinya tanpa ijin.
04.
P. SENOPATI

:
Aku sungguh-sungguh bermaksud menghadap Pamanda Adipati Purabaya, Pangeran Timur yang bergelar Rangga Jumena, kini Panembahan Purabaya….
05.
RETNO DUMILAH
:
‎Akulah Adipati Purabaya. Kau lihat Pusaka Kyai Kala Gumarang ada padaku…. Kau bermaksud menemuiku, perintahkan pasukanmu ke luar gerbang kota, dan suruh pengawalmu berada di luar Istana…
06.
P. SENOPATI
:
Kaukah itu diajeng Retna Dumilah, putri pamanda Panembahan Rama..?  Aku Sutawijaya.
07.
RETNO DUMILAH
:
Bawa pasukanmu keluar gerbang kota, Panembahan. Lalu suruh pengawal-pengawalmu menunggu di luar Istana. Bukankah kau mengerti paugeran tata praja…?
(PANEMBAHAN SENOPATI HANYA TERDIAM)
08.
P. SINGASARI
:
Lancang sekali mulutmu!
09.
RETNO DUMILAH
:
Diam kau Pangeran! Aku tidak bicara padamu.
08.
P. SINGASARI
:
(MARAH) Kau sudah terkepung. Sebentar lagi Purabaya akan hancur lebur!
09.
RETNO DUMILAH
:
Bisa jadi. (MELANGKAH MAJU) Kalian berhasil mendobrak gerbang istana setelah sekian lama menunggu di sebrang bengawan. Jangan dikira aku tidak tahu, Pangeran. Purabaya hanya tidak ingin memulai peperangan ini.
10.
P. SINGASARI
:
(TERTAWA) Itu artinya Purabaya telah kehilangan taringnya setelah ditinggal pasukan Brang Wetan.
11.
RETNO DUMILAH
:
Kau boleh tertawa sepuasmu, sebelum anak panah prajurit Purabaya merobek mulut besarmu itu!
12.
P. SINGASARI
:
Kau menantangku? (MENGUNUS KERISNYA)
13.
RETNO DUMILAH
:
Seribu Pangeran Mataram sepertimu pun, Retno Dumilah tak kan gentar!
14.
P. SINGASARI
:
(MARAH) Suruh dia menyerah kangmas Panembahan. Itu penghinaan kepada Mataram!
15.
RETNO DUMILAH
:
Kau menghendaki perang, Pangeran? Majulah! Setapak kau melangkah anak panah akan menancap di dadamu!
16.
P. SENOPATI
:
Tunggu…! Sarungkan kembali kerismu, dhimas! (PANGERAN SINGASARI MENYARUNGKAN KEMBALI KERISNYA DENGAN PERASAAN KEMARAHAN YANG TERTAHAN.) Kecuali Paman Ki Juru Mertani, aku minta para Pangeran dan Adipati menunggu di luar gerbang istana sesuai tanggung jawabnya. Lalu perintahkan Tumenggung pasukan masing-masing menarik para Perwira dan prajurit-prajuritnya mundur keluar batas kota. Percayakan padaku dan Paman Ki Juru Mertani.
17.
P. SINGASARI
:
(BERBISIK PADA P. SENOPATI) Tapi kangmas.... ini mungkin taktik musuh yang di ambang kehancuran.
18.
P. SENOPATI
:
Turuti perintahku, dhimas!
19.
P. SINGASARI
:
Mohon ampun, Kangmas. ( MEMBERI KOMANDO AGAR PASUKAN MATARAM MUNDUR)
20.
RETNO DUMILAH

:
(MEMERINTAH PRAJURITNYA EMPAT ORANG, PERGI KE SETIAP GERBANG) Lihat apa perintah Panembahan Mataram ‎itu dipatuhi oleh pasukannya. Lalu tutup gerbang Istana kembali. Aku tunggu di sini.
DENGAN PANAH TERARAH KEPADA PANEMBAHAN SENAPATI‎, EMPAT ORANG PUTRI KAPUTREN BERGERAK KELUAR REGOL. SELANJUTNYA MASING-MASING MENYEBAR MENGAMATI GERAK MUNDUR PARA PANGERAN KELUAR ISTANA, DAN SELANJUTNYA MEREKA AMATI GERAK PASUKAN MATARAM MUNDUR KELUAR BATAS KOTA DARI GERBANG YANG BARU SAJA MEREKA KUASAI.
21.
RETNO DUMILAH
:
Bicaralah Panembahan, apa maksudmu menemui Adipati Purabaya?
22.
P. SENOPATI
:
Diajeng Retna Dumilah.
23.
RETNO DUMILAH
:
Aku Adipati Purabaya, Panembahan. Bicaralah secara patut. Katakan apa maksudmu.
24.
P. SENOPATI

:
Diajeng Adipati… kunjunganku kali ini adalah kunjungan pada Kadipaten yang telah mempunyai hubungan tata praja dengan Pajang yang kini diteruskan oleh Mataram. Kunjungan ini untuk mengukuhkan kembali pola hubungan yang selama ini telah terjalin.
25.
RETNO DUMILAH

:
Dengan membawa pasukan segelar sepapan? Melakukan serangan kepada prajurit-prajurit Purabaya, bahkan mendobrak Gerbang Istana? Kyai Kala Gumarang telah terhunus, Panembahan. Tugasku yang pertama sebagai Adipati adalah membunuh Panembahan Senapati.
26.
P. SENOPATI
:
Tunggu dulu, Diajeng Adipati. Jangan terburu terbakar amarah, Diajeng.
27.
RETNO DUMILAH

:
Aku sudah tahu siasat licikmu, Panembahan. Kau manfaatkan kecantikan Nyai Adisara sebagai duta, tapi kau siapkan pasukanmu untuk mengepung. Kau berpura-pura mengakui kedaulatan Purabaya agar pasukan Brang Wetan ditarik mundur, sehingga Purabaya lengah.
28.
P. SENOPATI
:
Jangan salah sangka, Diajeng. Perang bukan harus mengandalkan kekuatan militer. Aku hanya menjalankan sebuah strategi perang.
29.
RETNO DUMILAH

:
(MULAI MEMANGGIL DENGAN MENYEBUT NAMA SUTAWIJAYA SAJA)
Raden Sutawijaya, apakah dalam dirimu tak pernah ditanamkan sifat kesatria oleh orang tuamu. Yang ada dalam hatimu hanyalah ketamakan dan membuat kerusakan untuk merebut kekuasaan negeri lain?
30.
P. SENOPATI
:
Diajeng, bukan maksudku untuk merebut kuasa negeri lain. Namun aku telah mendapat petunjuk Allah untuk mempersatukan Tanah Jawa melalui pesan Sunan Giri dan Sunan Kalijaga. Aku hanya menjalankan takdir-ku. Selain itu aku sendiri mendapatkan wangsit, bahwa Tanah Jawa harus bersatu, karena akan datang musuh orang-orang berkulit pucat dari Negeri Barat,  yang akan merusak tatanan seluruh Tanah Jawa, bahkan seluruh Bumi Nuswantara.
31.
RETNO DUMILAH

:
Terserah apa katamu Raden, namun aku tak mau termakan tipu muslihatmu untuk kedua kalinya.
(MENYINDIR KI JURU MERTANI) Aku tahu siapa pengatur siasat licik ini. Siapa lagi jika bukan Paman Ki Juru Mertani. Sejarah telah membuktikannya dengan gugurnya Aryo Penangsang dengan tipu muslihatnya.
32.
KI JURU MERTANI
:
Kau tidak memahami siasat perang, Adipati Retno Dumilah!
33.
P. SENOPATI
:
Jangan kau asal bicara. Kau telah dibakar amarah, sehingga bicaramu kian ngawur!
34.
RETNO DUMILAH
:
Aku menantangmu perang tanding hingga salah satu dari kita mati. Aku akan membunuhmu dengan Kyai Kala Gumarang sebagaimana titah ayahanda Panembahan Rama, dan mendudukkan ayahanda sebagai penerus Eyang Sultan Trenggana.
35.
KI JURU MERTANI
:
Nakmas Adipati Retno Dumilah, kenapa harus diselesaikan dengan perang tanding? Percayalah, coba renungkan bagaimana jika Purabaya bersatu dibawah Mataram? Semua kadipaten di tanah Jawa ini bersatu dalam satu kejayaan Mataram?
36.
RETNO DUMILAH
:
Jika itu yang Paman maksud, kenapa bukan Mataram yang bersatu di bawah Purabaya sebagai ahli waris Demak Bintoro?
37.
P. SENOPATI
:
(SENOPATI MULAI MEMBUKA STRATEGI CINTANYA.)
Diajeng, apakah tak ada cara lain, yang menimbulkan kesan bahwa Madiun telah menyatu kepada Mataram?
38.
RETNO DUMILAH
:
Aku belum kalah...!! Kalau perlu majulah kalian berdua.
39.
P. SENOPATI
:
Aku tidak akan berlaku pengecut, diajeng. Biarlah Paman Ki Juru Mertani ikut keluar regol istana. Dan perang tanding ini hanya akan ada kita berdua.
(PADA KI JURU MERTANI) Tinggalkan kami, Paman.
40.
KI JURU MERTANI
:
Hati-hati, Nakmas. (PERGI)
41.
P. SENOPATI
:
Diajeng, dalam keadaan seperti ini, bila engkau berkenan, maka aku Sutawijaya, akan menyerahkan hidup matiku kepadamu. Aku akan mengajakmu untuk hidup mukti-wibawa di kraton Mataram, dan aku berjanji engkau akan aku jadikan Ratu Prameswari di Istana Mataram.
42.
RETNO DUMILAH
:
Sutawijaya, aku tak akan silau dengan tawaranmu. Aku tak akan tertarik dengan hartamu, sementara engkaupun telah mempunyai Raden Ayu Waskitajawi sebagai permaisurimu. Namun aku menerima permintaanmu, dengan syarat kita harus berperang tanding. Bila engkau kuat menahan kekuatan Keris Kyai Kala Gumarang, maka permintaanmu akan aku terima!
43.
P. SENOPATI
:
Maafkan aku jika harus melukaimu dalam perang tanding nanti, meskipun dalam hati, sungguh malu jika harus bertarung dengan seorang putri.
44.
RETNO DUMILAH

:
Jangan kau sepelekan kaumku.
(BERJALAN SETENGAH MENGITARI PANEMBAHAN SENOPATI)
Aku tidak akan berlaku pengecut memerintahkan prajuritku melepas anak panah, Panembahan. Kalau aku gagal dan kau kalahkan, aku akan mengakui Mataram sebagai penerus Kesultanan Pajang. Nyawaku kuserahkan padamu sebagaimana kalau aku terbunuh dalam perang tanding ini.‎ Majulah!
45.
P. SENOPATI

:
Baik Diajeng Adipati… Aku terima tantanganmu. Kalau aku terbunuh, biarlah Pamanda Ki Juru Mertani membawa pulang tubuhku.
MAKA DI TEPI SENDANG PATIRTAN YANG JERNIH AIRNYA DI KAPUTREN ITU, RETNO DUMILAH BERSENJATAKAN KERIS PUSAKA KYAI KALA GUMARANG, BERTEMPUR MELAWAN PANEMBAHAN SENAPATI. SATU LAWAN SATU. RETNO DUMILAH MEMANG BERMAKSUD MENGEMBAN PERINTAH AYAHANDANYA. IA MESTI MEMBUNUH SUTAWIJAYA. KYAI GUMARANG DITANGANNYA SEAKAN MENCARI WARANGKA DI TUBUH PANEMBAHAN SENAPATI. GERAKANNYA SANGAT CEPAT DAN BERTUBI-TUBI. TATA GERAKNYA MENCERMINKAN KESAKTIAN PERGURUAN RATU KALINYAMAT.
TETAPI KYAI PLERED DITANGAN PANEMBAHAN SENAPATI ADALAH PUSAKA PINILIH HADIWIJAYA YANG MAMPU MEROBEK PERUT ARIA PENANGSANG. MAKA KYAI GUMARANG SENANTIASA MEMBENTUR KYAI PLERED DIMANAPUN PUSAKA ITU INGIN MENEMBUS TUBUH PANEMBAHAN.
46.
P. SENOPATI
:
Kenapa tidak kita sudahi saja peperangan ini?
47.
RETNO DUMILAH

:
Ternyata seorang Panembahan Senopati yang terkenal kedidgayaannya, hanya berani berlindung pada kekebalan Antrakusuma.
48.
P. SENOPATI
:
(TERTAWA) Rupanya kecantikanmu kian bersinar jika kau marah!
49.
RETNO DUMILAH
:
Simpan rayuanmu! (KEMBALI BERPERANG)
BETAPAPUN SEBAGAI PEREMPUAN KESEMPATAN MESU KANURAGAN DAN KASEKTEN MEMPUNYAI BATASAN NORMA DIBANDING LAWANNYA. MAKA KETIKA TENAGA RETNO DUMILAH SEMAKIN SUSUT, PADA SEBUAH BENTURAN KERAS, KYAI GUMARANG TERLEPAS DARI GENGGAMANNYA. RETNO DUMILAH MELONCAT MUNDUR. PANEMBAHAN SENAPATI TIDAK MEMBURUNYA, MELAINKAN IA PUNGUT KYAI GUMARANG.
50.
P. SENOPATI

:
(KYAI GUMARANG TERHUNUS DI TANGAN KANANNYA, DAN KYAI PLERED DI TANGAN KIRINYA, MAJU MENDEKATI RETNO DUMILAH) Kyai Kala Gumarang kini ditanganku, Diajeng. Bukankah Kadipaten Purabaya ada digenggamanku? Dan dengan begitu juga nyawamu?
51.
RETNO DUMILAH
:
Kau!
52.
P. SENOPATI
:
Jika kau anggap aku pantas menerima tamparanmu, tamparlah!
53.
RETNO DUMILAH

:
(TERDUDUK LEMAS) Kenapa Mataram musti datang dengan bunga-bunga kematian? Bukankah ada bunga-bunga yang lain?
54.
P. SENOPATI
:
Iya bunga-bunga cinta. Kaulah yang akan menjadi satu-satunya bunga terindah di Mataram

SEBAGAI PERINGATAN ATAS PENGUASAAN MATARAM ATAS PURABAYA TERSEBUT, MAKA PADA HARI JUMAT LEGI TANGGAL 16 NOVEMBER 1590 NAMA PURABAYA DIGANTI MENJADI MADIUN.
-- BLACK OUT –


Selesai

Setelah tiga tahun akhirnya perjalanan ini menemukan sebuah tanda baca….

Tentang Biru

Selayang Pandang tentang Sanggar Biru Madiun
1 Oktober 1996, sepuluh remaja bersepakat untuk mendirikan sebuah teater umum di Madiun. Diantaranya adalah Hendro Y, Widya Sapta Adi, Burahman Sudargo, Purwanto, Yoni Sugianto, Aman Puji. Teater Biru dipilih sebagai nama dari komunitas baru itu. Widya Sapta Adi didapuk sebagai Ketua dengan panggilan akrabnya "Pak Wa". Dalam perjalanannya, beberapa alumni teater SMA di Madiun bergabung dengan Teater Biru, antara lain  Didik, Slamet Teslam, Arthur, Wowok, Hari (dari Teater STANZA), Ony, Wahyudi (dari Teater ASAP), Ika (Teater AGNI).  Menandai kelahirannya, drama "Mega-Mega" sebuah karya Arifin C. Noor, sutradara Hendro Y, berhasil mereka pentaskan dengan beberapa bantuan dari teman-teman teater SMA.

Pada tahun 2006, Teater Biru berubah nama menjadi Sanggar Biru Madiun, dengan pertimbangan untuk lebih leluasa bergerak dalam mengembangkan berbagai ranah bentuk kesenian. Pasang surut, dinamika organisasi menjadi hal yang lumrah. Hingga usianya yang ke 19 tahun, Sanggar Biru Madiun mengalami dua kali pergantian pengurus. Dari Ketuanya yang pertama, Widya dilanjutkanYoni S (pelukis) kemudian dilanjutkan oleh Ony S hingga sekarang. Sanggar ini baru mampu menghasilkan 10 produksi, yakni :

No.
TAHUN
PRODUKSI
KETERANGAN EVENT
1
1996
Mega-mega
Naskah : Arifin C. Noor
Pentas Tunggal
Sutradara : Hendro Yogyaswara
2
1997
Romeo Juliet
Naskah : william Shaakespeare
Pentas Tunggal
Sutradara : Hendro Yogyaswara
3
2002
TUK
Naskah : Bambang Widoyo SP.
Pentas Tunggal
Sutradara : Hendro Yogyaswara
4
2009
ROL
Naskah : Bambang Widoyo SP.
Pentas Tunggal
Sutradara : Ony S.
5
2009
Orang-Orang Asing
Naskah : Whani Darmawan
Festival  Teater Umum  Madiun
Sutradara : Ony S.
6
2009
Masih Adakah Cinta
Naskah : N. Riantiarno (adaptasi dari naskah Pamflet Cinta)
Sepekan Panggung BIRU
Di Antara Kita
Sutradara : Ony S.
7
2010
Mantra Togog
Naskah : Hendro Yogyaswara
Sepekan Panggung BIRU
Sutradara : Hendro Yogyaswara
8
2011
Gemuruh Perang
Naskah : Sugito HS.
Kompetisi Teater Indonesia
Sutradara : Ony S.
9
2015
Maaf. Maaf. Maaf
Naskah : N. Riantiarno
Pentas Tunggal
 (Politik Cinta Dasamuka)
Sutradara : Ony S.
10
2016
TUK
Naskah : Bambang Widoyo SP.
Pentas Tunggal
Sutradara : Ony S.

Sanggar Biru Madiun, adalah rumah bagi mereka yang menginginkan belajar, berproses, saling berbagi, saling asah, asih, dan asuh. 
Di sinilah kami bersama mencoba untuk terus memBIRU.

Salam Budaya


Selasa, 09 Agustus 2016

Mari warga madiun dan sekitarnya ikut gabung dengan Sanggar Biru Madiun.
Untuk formulir pendaftaran bisa diunduh di link berikut ini :
FORMULIR PENDAFTARAN.pdf

Rabu, 06 Mei 2015

Bang Lawan Putih




a.         Kerajaan Glang-Glang di bumi Ngurawan Madiun

 Nagarakretagama, Pararaton, Kidung Harsawijaya, dan Kidung Panji Wijayakrama menyebut Jayakatwang adalah raja bawahan di Kadiri yang memberontak terhadap Kertanagara di Singhasari. Naskah prasasti Kudadu dan prasasti Penanggungan menyebut Jayakatwang pada saat memberontak masih menjabat sebagai bupati Glang-Glang. Setelah Singhasari runtuh, baru kemudian ia menjadi raja di Kadiri.
        Sempat muncul pendapat bahwa Glang-Glang merupakan nama lain dari Kadiri. Namun gagasan tersebut digugurkan oleh naskah prasasti Mula Malurung (1255). Dalam prasasti itu dinyatakan dengan tegas kalau Glang-Glang dan Kadiri adalah dua wilayah yang berbeda. Prasasti itu menyebutkan kalau saat itu Kadiri diperintah Kertanagara sebagai yuwaraja (raja muda), sedangkan Glang-Glang diperintah oleh Turukbali dan Jayakatwang.
          Lagi pula lokasi Kadiri berada di daerah Kediri, sedangkan Glang-Glang ada di daerah Madiun


Bang lawan Putih.docx

Selasa, 14 April 2015

Jenis - Jenis Teater

Jenis-Jenis Seni Teater


1 Teater Boneka  

             Pertunjukan boneka telah dilakukan sejak Zaman Kuno. Sisa peninggalannya ditemukan di makam-makam India Kuno, Mesir, dan Yunani. Boneka sering dipakai untuk menceritakan legenda atau kisahkisah religius. Berbagai jenis boneka dimainkan dengan cara yang berbeda. Boneka tangan dipakai di tangan sementara boneka tongkat digerakkan dengan tongkat yang dipegang dari bawah. Marionette, atau boneka tali, digerakkan dengan cara menggerakkan kayu silang tempat tali boneka diikatkan.
           Dalam pertunjukan wayang kulit, wayang dimainkan di belakang layar tipis dan sinar lampu menciptakan bayangan wayang di layar. Penonton wanita duduk di depan layar, menonton bayangan tersebut. Penonton pria duduk di belakang layar dan menonton wayang secara langsung.

 
2 Drama Musikal 

           Merupakan pertunjukan teater yang menggabungkan seni menyanyi, menari, dan akting. Drama musikal mengedepankan unsur musik, nyanyi, dan gerak daripada dialog para pemainnya. Di panggung Broadway jenis pertunjukan ini sangat terkenal dan biasa disebut dengan pertunjukan kabaret. Kemampuan aktor tidak hanya pada penghayatan karakter melalui baris kalimat yang diucapkan tetapi juga melalui lagu dan gerak tari. Disebut drama musikal karena memang latar belakangnya adalah karya musik yang bercerita seperti The Cats karya Andrew Lloyd Webber yang fenomenal. Dari karya musik bercerita tersebut kemudian dikombinasi dengan gerak tari, alunan lagu, dan tata pentas.
          Selain kabaret, opera dapat digolongkan dalam drama musikal. Dalam opera dialog para tokoh dinyanyikan dengan iringan musik orkestra dan lagu yang dinyanyikan disebut seriosa. Di sinilah letak perbedaan dasar antara Kabaret dan opera. Dalam drama musikal kabaret, jenis musik dan lagu bisa saja bebas tetapi dalam opera biasanya adalah musik simponi (orkestra) dan seriosa. Tokoh-tokoh utama opera menyanyi untuk menceritakan kisah dan perasaan mereka kepada penonton. Biasanya juga berupa paduan suara. Opera bermula di Italia pada awal tahun 1600-an. Opera dipentaskan di gedung opera. Di dalam gedung opera, para musisi duduk di area yang disebut orchestra pit di bawah dan di depan panggung.

3 Teater Gerak 

           Teater gerak merupakan pertunjukan teater yang unsur utamanya adalah gerak dan ekspresi wajah serta tubuh pemainnya. Penggunaan dialog sangat dibatasi atau bahkan dihilangkan seperti dalam pertunjukan pantomim klasik. Teater gerak, tidak dapat diketahui dengan pasti kelahirannya tetapi ekspresi bebas seniman teater terutama dalam hal gerak menemui puncaknya dalam masa commedia del’Arte di Italia. Dalam masa ini pemain teater dapat bebas bergerak sesuka hati (untuk karakter tertentu) bahkan lepas dari karakter tokoh dasarnya untuk memancing perhatian penonton. Dari kebebasan ekspresi gerak inilah gagasan mementaskan pertunjukan dengan berbasis gerak secara mandiri muncul.
           Teater gerak yang paling populer dan bertahan sampai saat ini adalah pantomim. Sebagai pertunjukan yang sunyi (karena tidak menggunakan suara), pantomim mencoba mengungkapkan ekspresinya melalui tingkah polah gerak dan mimik para pemainnya. Makna pesan sebuah lakon yang hendak disampaikan semua ditampilkan dalam bentuk gerak. Tokoh pantomim yang terkenal adalah Etienne Decroux dan Marcel Marceau, keduanya dari Perancis.


4 Teater Dramatik

           Istilah dramatik digunakan untuk menyebut pertunjukan teater yang berdasar pada dramatika lakon yang dipentaskan. Dalam teater dramatik, perubahan karakter secara psikologis sangat diperhatikan dan situasi cerita serta latar belakang kejadian dibuat sedetil mungkin. Rangkaian cerita dalam teater dramatik mengikuti alur plot dengan ketat. Mencoba menarik minat dan rasa penonton terhadap situasi cerita yang disajikan. Menonjolkan laku aksi pemain dan melengkapinya dengan sensasi sehingga penonton tergugah. Satu peristiwa berkaitan dengan peristiwa lain hingga membentuk keseluruhan lakon. Karakter yang disajikan di atas pentas adalah karakter manusia yang sudah jadi, dalam artian tidak ada lagi proses perkembangan karakter tokoh secara improvisatoris (Richard Fredman, Ian Reade: 1996). Dengan segala konvensi yang ada di dalamnya, teater dramatik mencoba menyajikan cerita seperti halnya kejadian nyata.


5 Teatrikalisasi Puisi

           Pertunjukan teater yang dibuat berdasarkan karya sastra puisi. Karya puisi yang biasanya hanya dibacakan dicoba untuk diperankan di atas pentas. Karena bahan dasarnya adalah puisi maka teatrikalisasi puisi lebih mengedepankan estetika puitik di atas pentas. Gaya akting para pemain biasanya teatrikal. Tata panggung dan blocking dirancang sedemikian rupa untuk menegaskan makna puisi yang dimaksud. Teatrikalisasi puisi memberikan wilayah kreatif bagi sang seniman karena mencoba menerjemahkan makna puisi ke dalam tampilan laku aksi dan tata artistik di atas pentas.

Rabu, 01 April 2015

Ngoyak Kala

NGOYAK KALA
Oleh :  Ony S.



SINOPSIS
Senja mulai datang, tapi si Tole belum juga pulang. Warga desa yang tengah beristirahat mendadak dikejutkan dengan hilangnya Tole. Mereka lantas beramai-ramai mencarinya. Kasak-kusuk sana-sini, hingga muncul pendapat bahwa si Tole dimangsa Batara Kala. Semua orang menjadi kian kebingungan dan ketakutan.
Apakah si Tole berhasil ditemukan? Dan apakah benar anak itu telah dimangsa Batara Kala karena ia adalah anak ontang-anting?

Naskah selengkapnya dapat diunduh di sini :    Ngoyak Kala.docx

Belajar Dari Jalanan

BELAJAR DARI JALANAN
Rian Ciputra, S. Pd.
Benar sekiranya jika ada pernyataan bahwa jalan raya adalah cermin perilaku bangsa. Karena dari jalan raya kita dapat melihat berbagai wajah. Di sanalah tempat bertemunya orang-orang. Saling lalu lalang, dan biasanya tanpa tegur sapa. Jikapun ada tegur sapa, pastinya hanya beberapa orang yang sudah saling mengenal. Semua orang sibuk dengan dirinya dan tujuan masing-masing. Saya akan menuju ke sana, dan kamu entah ke mana saya tak peduli. Dan tiap-tiap orang yang anda temui tak akan bertanya ke mana anda pergi dan juga sebaliknya, andapun juga tak akan mungkin menanyakan satu persatu orang akan pergi ke mana. Itu adalah hak ppribadi. Tak sopan rasanya jika anda menanyakan, bahkan memaksa untuk ikut ke arah tujuan anda.
Di jalan raya pula segala perilaku manusia muncul. Saya yakin anda pasti pernah mengendarai kendaraan anda di jalanan, terutama pada jam sibuk. Di sana kita lihat bagaimana perangai manusia begitu beragam. Ada yang sabar berjalan, ada yang ngebut, ada yang serobot kanan kiri, ada yang santai, ada pula yang ugal-ugalan. Dari sanalah kita dapat bercermin. Melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Dan apakah kita termasuk yang baik atau yang buruk?
Sepanjang sepengetahuan saya, pagi ketika waktu orang berangkat bekerja adalah saat orang menjadi sangat egois. Mereka mengejar waktu, memenuhi kebutuhan pribadi agar sampai ke tempat tujuan dengan segera.
Begitulah yang terjadi dengan bangsa ini. Kebanyakan orang saling tak peduli. Yang dipedulikan hanya kebutuhan dan tujuan masing-masing.
Pemerintah tak ada kepedulian. Perangainya menunjukan keegoisan mereka yang hanya ingin mencapai tujuan pribadi. Sementara kita sebagai rakyat tanpa sadar juga sibuk dengan tujuan kita. Yang terkadang bersikap ugal-ugalan, serobot sana serobot sini, sikut sana sikut sini tanpa peduli dengan orang lain demi sampai ke tujuan. Teriak-teriak tentang kebenaran, menuntut dan terus menuntut orang lain tanpa pernah menuntut diri kita sendiri. Bukan berarti kita tak boleh menuntut. Hanya saja kita harus lebih arif dalam menyampaikan sesuatu dan begitu pula sebaliknya. Dengan begitu, tak perlu ada saling emosi dan amarah yang meledak-ladak. Karena hal itu hanya akan menghabiskan energy saja.
Memang sudah sewajarnya tak ada tegur sapa di jalanan. Tapi bukan berarti kita saling tak peduli. Sudah sewajarnya pula setiap orang berjalan ke arah tujuan masing-masing. Tapi tak berarti kita harus egois. Kita hanya perlu untuk saling peduli. Jika diistilahkan “jangan sampai kita menabrak, bukan jangan sampai kita ditabrak.” Dari ungkapan tersebut, dapat ditarik kesimpulan, bahwa jangan sampai menabrak kita akan lebih peduli pada orang lain. Kita akan berusaha agar tidak menabrak orang lain. Berbeda dengan jangan sampai ditabrak. Kita akan menjadi sangat egois. Seenaknya sendiri tanpa peduli orang lain. Yang penting tidak tertabrak, masa bodoh dengan orang lain.
Dari jalanan kita dapat belajar banyak tentang negeri ini. belajar untuk sampai ke tujuan tanpa merugikan orang lain. Belajar untuk saling peduli dengan tidak menyerobot, dengan tidak ugal-ugalan, dengan mematuhi rambu lalu lintas, dan dengan sabar, dan juga dengan tanpa klakson di lampu merah.
Tak perlulah kita menengok kata-kata yang sering kita dengar. Bahwa kesabaran kita sudah di ubun-ubun karena telah 32 tahun kita terkekang. Bahwa kesabaran kita sudah habis karena pemerintah tetap bersikap seperti anak-anak. Bahwa amarah kita sudah tak terbendung karena korupsi ada di mana-mana. Muncul satu kasus dan kasus lain terlupakan. Kepala kita menjadi penuh dengan hal-hal yang menyesakkan. Saling berhimpitan dan mematri keegoisan dalam diri kita.
Lupakan semua itu, yang kita tuju adalah masa depan. Kita harus memulainya dari diri kita, dari hal-hal kecil, dan dari sekarang. Demi masa depan yang baik untuk semua orang. Dengan cara saling peduli, sehingga nantinya bangsa ini akan lebih bermartabat dan arif. Demi masa depan yang baik bukan hanya bagi segelintir orang namun bagi semua orang.