Sabtu, 03 Desember 2016

Keanekaragaman Penghuni Sanggar


Ini adalah para penghuni Sanggar Biru Madiun dan keanekaragamannya. Siapa saja boleh singgah di sini, karena memang ini adalah rumah singgah. Kita di sini saling menguatkan dan bukan saling meniadakan.

Bang Agung. Simbahnya Sanggar Biru Madiun

Ayah Ony. Ketuanya Sanggar Biru Madiun. Hobi pegang alat musik jenis apapun dan dari bahan apapun.

Mama Rani. Jago membuat kue dan roti terutama roti gulung-gulung. Dialah yang sering jadi pemasok konsumsi ketika anak-anak Sanggar Biru sedang berlatih.

Wisang Pendik. Gitarisnya Sanggar Biru Madiun meski sampai saat foto ini diupload belum ada kejelasan status keanggotaannya.

Mbak Ika aka Mbokdhe Jemprit. Tukang suntik karena memang seorang perawat dan juga tukang sunat.

Mbak Mahanani aka Mbah Kawit. Desainer stiker, poster dan pamfletnya Sanggar Biru. Orangnya sibuk dan sering ke luar negeri karena harus mondar-mandir ngurus bisnisnya. Tetapi di waktu luangnya kadang manuver jadi tukang urutnya Soleman.

Rista. orang paling gampang baper di Sanggar Biru. Hobi banget sama yang namanya nangis. Kalau sudah curhat bisa tahan berjam-jam.

Jalu. Vokalisnya Sanggar Biru karena memang suaranya paling bisa diandalkan selain Wisang Pendik dan Ajeng. Orangnya paling menonjol di Sanggar Biru. Hatinya begitu lembut selembut kapuk bantal. Kalau sedang kepedesan mulutnya bisa mengeluarkan asap. Bercita-cita punya kumis seperti Bang Agung.

Ibnu Malik. Operator audionya Sanggar Biru dan juga tim artistik Sanggar. Paling suka ngulik kabel dan barang-barang audio. Kemana-mana selalu bawa kertas gambar untuk menggambar dekorasi, setting panggung kadang juga gambar bulatan-bulatan tidak jelas.

Candra Elmen. Tukang kendang yang saat ini sedang latihan alat musik tiup sampai-sampai berlatih meniup ban sepeda yang ada di Sanggar. Berlatih 6 jam setiap hari agar bisa meniup recorder dengan baik dan benar.

Ajeng. Vokalisnya Sanggar Biru. Sering labil karena memang daya listriknya kurang stabil.

Furqon. Ahli forensik dari negeri seberang. Datang ke Sanggar Biru Madiun untuk meningkatkan ilmu pancasona tingkat 5. Sedang agak amnesia semenjak kehilangan gelang perubahnya.

Eka. Orang paling diam tapi kalau sudah ngomong bisa kemana-mana. Setiap kali latihan musik hobi pegang alat "ecek-ecek".

Bintang. Penata lampu alias tukang PLN-nya Sanggar Biru. Benar-benar terobsesi sama yang namanya lampu karena hampir setiap malam dialah teman setia yang memeluk lampu-lampu di Sanggar.

Dika. Penari dan memang suka menari. Biasanya setiap kali Sanggar Biru ataupun Teater di bawah naungan Sanggar sedang pentas, dialah yang selalu mengajukan diri untuk memberi pinjaman kostum.

Totok. Anggota Sanggar Biru yang sangat sibuk tour dan jalan-jalan. Karena memang punya biro wisata.

Eka Kocok. Anggota Sanggar Biru yang telah lama hilang. Katanya sedang mencari jati diri ke barat, dan mungkin sedang tersesat tak tahu jalan pulang.

Rian Ciputra aka Ichi. Admin Blog Sanggar Biru Madiun. Orang paling absurd di Sanggar. Kalau latihan seringnya cuma pakai boxer. Vokalnya paling fals setelah Furqon. Sedang menjalani latihan ilmu kanuragan. Hobinya mencuci Megazord. Jati diri sebenarnya adalah Ranger Hijau.



Menanamkan Empati


Kata seorang teman, setidaknya minimal mengabarkan satu berita gembira pada seseorang akan memberikan efek positif bagi pengabar juga pendengarnya. Lalu saya berandai-andai, bagaimana jika puluhan, ratusan bahkan jutaan kabar gembira yang kita dengar atau sampaikan setiap hari. Mungkin kita akan merasa bersemangat menjalani kehidupan tanpa keluh kesah, umpatan bahkan cacian. Hanya saja di zaman modern yang serba instan ini segala kemungkinan begitu terbuka lebar. Setiap orang punya kesempatan untuk berpendapat secara terbuka di media umum, entah itu dengan santun atau dengan bahasa kasar yang buruk, berdasar ataupun tidak. Semua bisa dilakukan dengan mudah sambil duduk, ngupil, selonjoran atau tiduran. Banyak orang ingin didengarkan dan merasa perlu untuk berkomentar tanpa ada tedeng aling-aling. Mereka bebas mengumpat, mencaci, menghujat apa saja siapa saja. Mungkin slogan bahwa kita adalah bangsa yang santun sudah tertimbun puing-puing keegoisan kita demi kepentingan-kepentingan.



Waktu memang perkasa, ia telah menggiring kita menjadi makhluk yang begitu rumit. Semakin berkembang pengetahuan kita, semakin rumitlah kita. Padahal tujuan utama ilmu pengetahuan adalah untuk memudahkan kehidupan. Tapi seiring perkembangan teknologi yang begitu pesat masalah-masalah baru muncul saling tumpang tindih minta diselesaikan satu persatu.


Sering muncul celetukan, betapa indahnya masa kanak-kanak. Masa di mana penuh dengan kegembiraan, tanpa ada kebencian dan rasa dendam. Bagaimana tidak, ketika para orang dewasa sibuk mencari siapa benar dan siapa salah, anak-anak begitu sederhananya menjalani peran mereka. Mereka bermain bersama, berselisih mungkin juga berkelahi karena sesuatu hal, tapi sebentar saja mereka sudah bermain permainan lain bersama tanpa pernah ingat perselisihan sebelumnya.


Betapa indahnya pemikiran sederhana mereka, sesederhana kami di Sanggar Biru yang ingin berbagi sedikit apa yang kami miliki kepada anak-anak. Di Sanggar Biru ini kami mencoba mengajak mereka untuk berkesenian serta berkarya, bukan untuk menjadi seorang seniman, artis atau selebritis akan tetapi agar mereka saling mengenal satu sama lain, memahami tentang perbedaan dan mengajak mereka saling bekerja sama. Harapan kami dengan berproses, nantinya mereka memiliki rasa empati yang tinggi kepada sesama  serta halus budinya. Semoga kelak mereka akan menyebarkan benih yang telah kami tanam kepada teman, saudara dan kerabat mereka. 

Sabtu, 24 September 2016

Mari Berbagi Inspirasi


Persoalan negara ini sudah begitu banyak, ditambah masalah pribadi dengan orang lain ataupun kelompok lain. Mereka berseliweran memenuhi otak dan terkadang membuat kita terasa mual. Semuanya tak kunjung usai dan ujung-ujungnnya jadi fitnah berkelanjutan. Lalu untuk apa berpolemik lagi? Hal itu cuma akan jadi wacana warung kopi dan opini saja. Lebih baik kita kumpulkan energi untuk saling memberi inspirasi. Kita lupakan hal-hal remeh temeh itu dengan membiasakan diri menyedikitkan ngobrol tentang keburukan ataupun kemunafikan. Mari kita belajar, kita berbagi, dan kita berkarya, di sini di rumah kita, Sanggar Biru, tempat saling berbagi inspirasi. 



Kamis, 22 September 2016

KEGIATAN SANGGAR BIRU
MADIUN

Sanggar, rumah tempat kita kembali, belajar dan berbagi



Persiapan launching Dunia Biru




Penandatanganan Akta Notaris Sanggar Biru Madiun


Ini 2 foto yang tidak begitu jelas sedang apa. Pentas, ngamen
atau nongkrong?

 Dapat job mewarnai tembok sekolah


Minggu, 18 September 2016

Dunia Biru

Dunia Biru adalah tempat saling berbagi tentang banyak hal. Di sini semua orang boleh singgah dan pergi ataupun menetap untuk sekedar mencoretkan warnanya, karena rumah ini selalu terbuka bagi siapa saja. 
Untuk kawan, sahabat, saudara tercinta, berhentilah sejenak di sini.
Cuplikan Video Pementasan Maaf, Maaf, Maaf (Politik Cinta Dasamuka)
Karya  :  N. Riantiarno
Sutradara  :  Ony S.
Produksi ke 9 Sanggar Biru Madiun


Dokumentasi Pementasan Sanggar Biru Madiun
dengan naskah berbahasa Jawa yang berjudul
"TUK"














Nantikan pementasan Sanggar Biru selanjutnya tahun depan.
Kami akan berusaha tetap berproses.
"Dharma Eva Hatto Hanti"