Kamis, 26 Maret 2015

Memayu Apa Wis Payu?



Memayu Apa Wis Payu?
Sandiwara Berbahasa Jawa
Naskah : ony S


Memayu hayuning Bawana
Hamemayu atau memayu, artinya 'membuat ayu' atau mempercantik, memperindah. Hayuning, artinya keadaan yang ayu, cantik atau indah. Bawana artinya benua atau bumi. Jadi arti harafiah dari 'memayu hayuning bawana' adalah 'membuat ayu bumi yang (diciptakan)sudah dalam keadaan ayu'. Kata 'bumi' dalam hal ini mempunyai arti ganda, yaitu bumi dan isinya secara fisik atau ekosistem serta kehidupan di bumi. 'Memayu hayuning bawana' secara utuh merupakan falsafah, tujuan dan landasan hidup manusia di bumi. Falsafah ini diperkenalkan oleh Pujangga Besar Ronggowarsito.
Bumi sebagai sumber kehidupan akan ayu (tidak rusak) oleh ulah manusia. Manusia hidup rukun, tidak ada perang, permusuhan atau saling benci. Tentu semua itu idealnya begitu karena harapan itu mencerminkan Memayu Hayuning Bawana sebagai falsafah hidup.
Wujud nyata dari upaya memayu hayuning bawana sendiri adalah menjaga kelestarian lingkungan hidup. Polusi udara, air, tanah dapat membawa kesusakan lingkungan. Pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan, pembabatan hutan secara liar, ulah tangan-tangan kotor manuia seperti ini jelas sngat bertentangan dengan falsafah memayu hayuning bawana.
            Bila pada cerita pewayangan terdapat tokoh raksasa(buto) dengan tubuh yang menyeramkan, sosok ini disimbolkan sebagai watak antagonis yang berseberangan dengan para satria dalam usaha memenangkan kebaikan, menciptakan keselarasan dunia, memayu hayuning bawana. Bangsa raksasa adalah simbol dari bercokolnya segala nafsu manusia.
Pada zaman sekarang, sosok raksasa (buto) ini tampil dengan penampilan baru yang lebih elegan. Mereka sama seperti manusia, suka berpenampilan rapi, berbaur dengan manusia pada umumnya, menyantap makanan apa saja yang penting enak. Secara fisik memang sama, tetapi mereka tetap mewarisi sifat dan nafsu bangsa raksasa yang selalu rakus, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
Kita  harus lebih waspada. Jangan mudah tergiur dengan segala iming-iming. Kita musti lebih bijak lagi, banyak pembangunan dengan dalih mengangkat derajat rakyat kecil, tetapi nyatanya lebih memperdalam jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Proyek-proyek dilaksanakan hanya untuk kepentingan sebagian kecil pihak tanpa mempedulikan keselamatan alamnya.
Dalam garapan ini disimbolkan masyarakat desa yang guyub rukun, suka bergotong royong harus tersingkir oleh pembangunan proyek. Mereka telah kehilangan sawah, ladang. Apa kemudian mereka harus kehilangan rumah mereka karena harus digantikan oleh perumahan dan lapangan golf?
Inilah realitas nyata dimana para penguasa, konglomerat, pengembang, kontraktor berlomba-lomba memperluas lahan proyeknya. Membangun banyak perumahan, sarana prasarana umum yang hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang, tanpa mempedulikan kesimbangan alam dan lingkungan.
            Kiranya judul Memayu apa wis payu dapat menjadi cerminan mungkin sindiran bagi kita untuk lebih arif untuk membangun demi kesejahteraan rakyat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup. Singkatnya, menciptakan pembangunan yang berwawasan lingkungan.

           
Pelajaran Berharga
Dari garap karya ini dapat ditarik kesimpulan dan nilai-nilai moral sebagai berikut :
1.      Budaya gotong royong yang telah menjadi ciri kepribadian bangsa Indonesia harus selalu kita tumbuh kembangkan.
2.      Bencana alam yang terjadi disebabkan oleh ulah manusia sendiri karena tidak mau menjaga kelestarian alam dan lingkungannya.
3.      Rezeki bisa dicari dimana-mana, setiap orang  bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, namun hendaknya jangan sampai merugikan orang lain.
 
   Naskah selengkapnya dapat diunduh di sini:  Memayu Apa Wis Payu.docx

Tidak ada komentar:

Posting Komentar